Senin, 04 Maret 2013

STUDI KARAKTERISTIK HIDRO-OSEANOGRAFI PERAIRAN TELUK JAILOLO PADA PERIODE MUSIM PERALIHAN DUA (MPD)

I. PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
       Karakteristik suatu perairan dapat diartikan sebagai perubahan dinamika yang terjadi karena faktor lingkungan. Pengamatan tentang karakteristik suatu perairan perlu dikaji dengan melihat perubahan- perubahan dinamika perairan yaitu gambaran beberapa parameter oseanografi seperti perubahan pasang surut, arus, gelombang, kedalaman, suhu, salinitas dan Kecerahan. Fenomena ini memberikan ciri khas tersendiri pada suatu wilayah perairan laut.
Pengelolaan sumber daya pesisir dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan, memerlukan pengetahuan yang memadai tentang kondisi lingkungan. Pariwono (1999) mengemukakan bahwa salah satu aspek lingkungan yang penting untuk diketahui dan dipahami agar pengelolaan sumberdaya dapat dilaksanakan dengan tepat yaitu dinamika dari perairan. Hal ini disebabkan karena perairan berupa fluida yang tidak mengenal batas administrasi atau ekologi. Apabila perairan di suatu lokasi terganggu maka dampaknya akan tersebar ke lingkungan di sekitarnya.
         Halmahera Barat adalah salah satu daerah yang memiliki perairan teluk yaitu Teluk Jailolo yang saat ini telah dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai daerah pengembangan dibidang perhubungan, perdagangan, wisata bahari, wisata alam dan lain-lain, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
        Teluk Jailolo yang secara administratif berada di Kabupaten Halmahera Barat Propinsi Maluku Utara, banyak di jumpai bermacam- macam ekosistem laut. Perairan teluk ini memiliki topografi dasar perairan yang bervariasi diantara pulau–pulau yang ada di sekelilingnya.
Kawasan pada wilayah sekitar perairan teluk telah dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dengan melaksanakan kegiatan tahunan (Festival Teluk Jailolo), serta penelitian yang menyangkut dengan terumbu karang, namun data dan informasi yang ada belum memadai mengenai kondisi hidro-oseanografi perairan Teluk Jailolo ini, sehingga perlu dikaji lebih dalam lagi tentang kondisi lingkungan lautnya.
       Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas maka penelitian dilakukan dengan judul “Studi Karakteristik Hidro-Oseanografi Perairan Teluk Jailolo pada Periode Musim Peralihan Dua (MPD)’’
1.2. Tujuan Penelitian
       Penelitian ini bertujuan untuk :
1.    Mengukur dan menganalisis data parameter hidro-oseanografi perairan Teluk Jailolo.
2.    Mendeskripsikan kondisi hidro-oseanografi perairan Teluk Jailolo pada Periode Musim Peralihan Dua (MPD).
1.3. Manfaat Penelitian
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi awal tentang kondisi oseanografi khususnya dinamika perairan yang berkembang di perairan Teluk Jailolo pada periode musim peralihan dua (MPD), serta dapat menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya dalam menggambarkan kondisi oseanografi pada periode musim lainnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Oseanografi
      oseanografi berasal dari kata ocean yang berarti laut dan graphy yang berarti gambaran, deskripsi. Sehingga oseanografi mempunyai arti gambaran tentang lautan. Oseanografi itu sendiri bukan ilmu murni tetapi didukung oleh berbagai macam cabang ilmu seperti kimia oseanografi, fisika oseanografi, biologi oseanografi serta geologi oseanografi (Hutabarat dan Evans, 1984).
Bagian penting dari gambaran oseanografi suatu perairan laut adalah deskripsi dari penyebaran atau distribusi spasial maupun temporal dari parameter suhu dan salinitas. Pengamatan suhu dan salinitas ini merupakan parameter yang tak dapat ditinggalkan dalam hampir setiap penelitian di laut (Nontji, 1987).
    Bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai studi dan penjelajahan (eksplorasi) ilmiah mengenai laut dan segala fenomenanya. Laut sendiri adalah bagian dari hidrosfer. Seperti diketahui bahwa bumi terdiri dari bagian padat yang disebut litosfer, bagian cair yang disebut hidrosfer dan bagian gas yang disebut atmosfer. Sementara itu bagian yang berkaitan dengan sistem ekologi seluruh makhluk hidup penghuni planet Bumi dikelompokkan ke dalam biosfer. Nontji, (1987).
       Hutabarat dan Evans (1985), pada bagian lain menjelaskan bahwa oseanografi adalah studi ilmiah mengenai bumi yang ditutupi oleh air dan lingkunganya. Sasarannya adalah memperluas pengertian manusia mengenai semua aspek kelautan, sifat antara tingkah laku air, flora dan fauna dalam alam laut, interaksi udara diatasnya serta bentuk dan struktur air laut itu sendiri.
2.2. Parameter Fisika Oseanografi
       Fisika oseanografi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara sifat – sifat fisika yang terjadi dalam lautan sendiri dan yang terjadi antara lautan dengan atmosfer dan daratan. Hal ini termasuk kejadian- kejadian pokok seperti terjadinya tenaga pembangkit pasang dan gelombang, iklim dan sistem- sistem arus yang terdapat di lautan dunia (Hutabarat dan Evans, 1984).
Dahuri dkk (2008) mengemukakan bahwa kondisi oseanografi fisika di kawasan pesisir dan laut dapat digambarkan oleh terjadinya fenomena alam seperti terjadinya pasang surut, arus, gelombang, kondisi suhu dan salinitas serta angin. Fenomena- fenomena ini memberikan ciri khas/karakter pada kawasan pesisir dan lautan. Sehingga menyebabkan terjadinya kondisi fisika perairan yang berbeda- beda.
2.2.1. Pasang surut
       Menurut Pariwono (1989), fenomena pasang surut diartikan sebagai naik turunnya muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan terhadap massa air di bumi. Lebih jauh Dronkers (1964) menjelaskan pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil.
        Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak.  Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi.  Gaya tarik gravitasi bumi menarik air laut ke arah bulan dan matahari menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut.  Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari (Priyana,1994)
Pasang surut terbentuk karena rotasi bumi yang berada di bawah muka air yang menggelembung ini, yang mengakibatkan kenaikan dan penurunan permukaan laut di wilayah pesisir secara periodik.  Gaya tarik gravitasi matahari memiliki efek yang sama namun dengan derajat yang lebih kecil. Daerah-daerah pesisir mengalami dua kali pasang dan dua kali surut selama periode sedikit di atas 24 jam (Priyana,1994).
       Perairan laut memberikan respon yang berbeda terhadap gaya pembangkit pasang surut, sehingga terjadi tipe pasut yang berlainan di sepanjang pesisir. Menurut Dronkers (1964), ada tiga tipe pasut yang dapat diketahui, yaitu :
a.    Pasang surut diurnal. Yaitu bila dalam sehari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut. Biasanya terjadi di laut sekitar katulistiwa.
b.    pasang surut semi diurnal. Yaitu bila dalam sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang hampir sama tingginya.
c.    pasang surut campuran. Yaitu gabungan dari tipe 1 dan tipe 2, bila bulan melintasi khatulistiwa (deklinasi kecil), pasutnya bertipe semi diurnal, dan jika deklinasi bulan mendekati maksimum, terbentuk pasut diurnal.
Menurut Wyrtki (1961), pasang surut di Indonesia dibagi menjadi 4 yaitu :
a.    Pasang surut harian tunggal (Diurnal Tide) merupakan pasut yang hanya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari, ini terdapat di Selat Karimata
b.    Pasang surut harian ganda (Semi Diurnal Tide) merupakan pasut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang tingginya hampir sama dalam satu hari, ini terdapat di Selat Malaka hingga Laut  Andaman.
c.    Pasang surut campuran condong harian tunggal (Mixed Tide Prevailing- Diurnal), merupakan pasut yang tiap harinya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut tetapi terkadang dengan dua kali pasang dan dua kali surut yang sangat berbeda dalam tinggi dan waktu.
d.    Pasang surut campuran condong harian ganda (Mixed Tide Prevailing Semi- Diurnal), merupakan pasut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari tetapi terkadang terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dengan memiliki tinggi dan waktu yang berbeda, ini terdapat di Pantai Selatan Jawa dan Indonesia Bagian Timur.
Beberapa alat pengukuran pasang surut diantaranya adalah sebagai berikut :
a.    Tide Staff. Alat ini berupa tiang yang telah diberi skala dalam meter atau centi meter. Biasanya digunakan pada pengukuran pasang surut di lapangan. Tide Staff (tiang berskala) merupakan alat pengukur pasut paling sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian muka laut atau tinggi gelombang air laut.  Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu, alumunium atau bahan lain yang dicat anti karat.
b.    Tide gauge, Merupakan perangkat untuk mengukur perubahan muka laut secara mekanik dan otomatis.  Alat ini memiliki sensor yang dapat mengukur ketinggian permukaan air laut yang kemudian direkam ke dalam komputer.
c.    Satelit.
Sistem satelit altimetri berkembang sejak tahun 1975 saat diluncurkannya sistem satelit Geos-3.  Pada saat ini secara umum sistem satelit altimetri mempunyai tiga objektif ilmiah jangka panjang yaitu mengamati sirkulasi lautan global, memantau volume dari lempengan es kutub, dan mengamati perubahan muka laut rata-rata (MSL) global. Prinsip dasar satelit Altimetri adalah dilengkapi dengan pemancar pulsa radar (transmitter), penerima pulsa radar yang sensitif (receiver), serta jam berakurasi tinggi.  Pada sistem ini, altimeter radar yang dibawah oleh satelit memancarkan pulsa-pulsa gelombang elektromagnetik (radar) kepermukaan laut.  Pulsa-pulsa tersebut dipantulkan balik oleh permukaan laut dan diterima kembali oleh satelit.
2.2.2. Arus
   Arus adalah pergerakan massa air secara vertikal dan horizontal sehingga menuju keseimbangannya, atau gerakan air yang sangat luas yang terjadi diseluruh lautan dunia (Hutabarat dan Evans, 1984). Sistem arus laut utama dihasilkan oleh beberapa daerah angin secara terus menerus, berbeda satu sama lain dengan berubah-ubah. Arus ini juga mempengaruhi penyebaran organisme laut dan juga menentukan pergeseran daerah biografi melalui perpindahan air hangat ke daerah yang lebih dingin dan sebaliknya. Angin dapat mendorong bergeraknya air permukaan, menghasilkan suatu gerakan arus horizontal yang lamban yang mampu mengangkut suatu volume air yang sangat besar melintasi jarak jauh di lautan (Nybakken, 1992). Arus permukaan merupakan percerminan langsung dari pola angin. Jadi arus permukaan digerakkan oleh angin dan air dilapisan bawahnya ikut terbawa. Karena disebabkan oleh adanya gaya coriolis yaitu gaya yang di sebabkan oleh perputaran bumi (Romimohtarto dan Juana, 2002).
Faktor – faktor pembangkit arus permukaan adalah sebagai berikut (Hutabarat dan Evans, 1984):
1.    Bentuk topografi dasar lautan dan pulau-pulau yang ada disekitarnya. Beberapa sistem lautan utama di dunia dibatasi oleh massa daratan dari tiga sisi dan oleh arus equatorial counter dari sisi ke empat. Batas-batas ini menghasilkan aliran yang hampir tertutup dan cenderung membuat aliran air mengarah dalam bentuk bulatan.
2.    Gaya coriolis. Gaya coriolis mempengaruhi aliran massa air dimana gaya ini akan membelokkan arah arus dari arah yang lurus. Gaya ini timbul sebagai akibat dari perputaran bumi pada porosnya.
3.    Perbedaan tekanan. Pada umumnya air di daerah tropik dan sub tropik lebih tinggi daripada daerah kutub. Walaupun perbedaan ini kecil, namun dapat menyebabkan timbulnya perbedaan tekanan air yang berakibat air akan mengalir dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah.
4.    Perbedaan densitas. Gerakan air yang luas dapat diakibatkan oleh perbedaan densitas dari lapisan lautan yang mempunyai kedalaman berbeda-beda perbedaan ini timbul terutama diakibatkan oleh perbedaan suhu dan salinitas.
2.2.3. Kedalaman Perairan (Batimetri)
         Batimetri adalah ilmu yang mempelajari kedalaman di bawah air dan studi tentang tiga dimensi lantai samudra atau danau. Sebuah peta batimetri umumnya menampilkan relief  lantai atau dataran dengan garis-garis kontur (contour lines) yang disebut kontor kedalaman (depth contours atau isobath), dan dapat memiliki informasi tambahan berupa informasi navigasi permukaan.
       Awalnya, batimetri mengacu kepada pengukuran kedalaman samudra. Teknik-teknik awal batimetri menggunakan tali berat terukur atau kabel yang diturunkan dari sisi kapal. Keterbatasan utama teknik ini adalah hanya dapat melakukan satu pengukuran dalam satu waktu sehingga dianggap tidak efisien. Teknik tersebut juga menjadi subjek terhadap pergerakan kapal dan arus.
       Tak ada kawasan di muka bumi ini yang unik gambaran relief (topografi) dasar lautnya seperti perairan laut nusantara kita. Dalam kawasan yang terbatas ini boleh dikatakan semua tipe topografi dasar laut bisa ditemukan seperti  paparan yang dangkal, depresi yang dalam dengan berbagai bentuk basin atau cekung, berbagai bentuk elevasi berupa dasar laut, gunung bawah laut (seamount), terumbu karang dan sebagainya. Tetapi topografi yang menakjubkan ini kadang-kadang kurang memberikan kesan yang berarti bagi banyak orang, karena wujudnya tidak bisa terlihat langsung dengan nyata (Nontji, 1987).
Pemetaan batimetri secara umum dapat menggunakan dua metode dasar, yaitu:
•    Metode Mekanik
       Metode mekanik disebut juga dengan metode pengukuran kedalaman secara langsung. Metode ini efektif digunakan untuk perairan yang sangat dangkal atau rawa. Instrumen yang digunakan adalah tongkat ukur atau rantai ukur yang dilakukan dengan bantuan wahana apung. Bentuk tongkat ukur mirip dengan rambu ukur yang dipakai untuk pengukuran sipat datar. Sedangkan rantai ukur, karena fleksibilitas bentuknya, biasanya dipakai untuk pengukuran kedalaman yang rata-rata lebih dalam dibanding dengan tongkat ukur. Pada ujung rantai ukur digantungkan pemberat untuk menghindari sapuan arus perairan dan menjaga agar rantai senantiasa relatif tegak. Pengukuran kedalaman dengan metode mekanik efektif digunakan untuk pemetaan pada batas daerah survei yang relatif tidak luas dengan skala yang cukup besar.
•    Metode Akustik
       Metode akustik merupakan proses-proses pendeteksian target di laut dengan mempertimbangkan proses-proses perambatan suara, karakteristik suara (frekuensi, pulsa,  intensitas), faktor lingkungan/medium, kondisi target dan lainnya. Aplikasi metode ini dibagi menjadi 2, yaitu sistem akustik pasif dan sistem akustik aktif. Salah satu aplikasi dari sistem aplikasi aktif yaitu Sonar yang digunakan untuk penentuan batimetri. Sonar (Sound Navigation And Ranging) berupa sinyal akustik yang diemisikan dan refleksi yang diterima dari objek dalam air (seperti ikan atau kapal selam) atau dari dasar laut. Bila gelombang akustik bergerak vertikal ke dasar laut dan kembali, waktu yang diperlukan digunakan untuk mengukur kedalaman air, jika c juga diketahui (dari pengukuran langsung atau dari data temperatur, salinitas dan tekanan). Salah satu alat pengukuran kedalaman yaitu Fishfinder yang merupakan teknologi pendeteksian bawah air dengan menggunakan perangkat akustik (acoustic instrument). Teknologi ini menggunakan suara atau bunyi untuk melakukan pendeteksian. Sebagaimana diketahui bahwa kecepatan suara di air adalah 1.500 m/detik, sedangkan kecepatan suara di udara hanya 340 m/detik, sehingga teknologi ini sangat efektif untuk deteksi di bawah air.
       Beberapa langkah dasar pendeteksian bawah air adalah adanya transmitter yang menghasilkan listrik dengan frekuensi tertentu. Kemudian disalurkan ke transducer yang akan mengubah energi listrik menjadi suara, kemudian suara tersebut dalam berbentuk pulsa suara dipancarkan.
Suara yang dipancarkan tersebut akan mengenai obyek (target), kemudian suara itu akan dipantulkan kembali oleh obyek (dalam bentuk echo) dan diterima kembali oleh alat transducer. Echo tersebut diubah kembali menjadi energi listrik, lalu diteruskan ke receiver dan oleh mekanisme yang cukup rumit hingga terjadi pemprosesan dengan menggunakan echo signal processor dan echo integrator. Prosesnya didukung oleh peralatan lainnya yaitu komputer, GPS (Global Positioning System), Colour Printer, software program dan kompas. Hasil akhir berupa data siap diinterpretasikan untuk bermacam-macam kegunaan yang diinginkan. Bila dibandingkan dengan metode lainnya dalam hal estimasi atau pendugaan, teknologi ini memiliki kelebihan, yaitu informasi pada areal yang dideteksi dapat diperoleh secara cepat (real time). Kelebihan lain adalah tidak perlu bergantung pada data statistik. Serta tidak berbahaya atau merusak objek yang diteliti (friendly), karena pendeteksian dilakukan dari jarak jauh dengan menggunakan suara (underwater sound).
      Teknologi ini juga dapat digunakan dalam mengukur dan menganalisa hampir semua yang terdapat di kolom dan dasar air, aplikasi teknologi ini untuk berbagai keperluan antara lain adalah eksplorasi bahan tambang, minyak dan energi dasar laut (seismic survey), deteksi lokasi bangkai kapal (shipwreck location), estimasi biota laut, mengukur laju proses sedimentasi (sedimentation velocity), mengukur arus dalam kolom perairan (internal wave), mengukur kecepatan arus (current speed), mengukur kekeruhan perairan (turbidity) dan kontur dasar laut (bottom contour). Saat ini, fishfinder memiliki peran yang sangat besar dalam sektor kelautan dan perikanan, salah satunya adalah dalam pendugaan sumberdaya ikan (fish stock assessment (Supangat, 2003).
2.2.4. Suhu, Salinitas dan Kecerahan
1. Suhu
      Suhu adalah salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme di laut, karena suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme maupun perkembangan dari organisme. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak dijumpai bermacam macam jenis hewan yang terdapat diberbagai tempat di dunia (Hutabarat dan Evans, 1984).
       Sejak sinar matahari yang diserap oleh lapisan permukaan laut, maka lapisan ini cenderung untuk relatif panas sampai kedalaman 200 m. Pada lapisan kedalaman antara 200 - 1000 m suhu turun secara mendadak yang membentuk sebuah kurva dengan lereng yang tajam yang dikenal sebagai termokline (Hutabarat dan Evans, 1984).
       Perbedaan jumlah panas yang diterima oleh permukaan bumi di tempat-tempat yang terletak pada lintang yang berbeda sebagai akibat dari bentuk bumi yang bulat. Cahaya matahari yang jatuh di atas daerah tropik terlebih dahulu akan melalui atmosfer dengan menempuh jarak yang lebih pendek daripada yang ditempuh di daerah kutub. Cahaya matahari ini juga memanasi daerah equator pada area yang lebih sempit jika dibandingkan dengan daerah kutub. Suhu merupakan indikator yang penting untuk menunjukkan perubahan kondisi lingkungan, lebih-lebih fluktuasi suhu yang  jelas baik vertikal maupun horizontal yang berubah dari suatu tempat ke tempat lain. Suhu air laut cenderung menurun dari permukaan sampai dasar perairan. Hutabarat dan Evans (1984).
Penampakan suhu di perairan tropik dan subtropik ditunjukkan oleh gradien suhu (perbedaan suhu dan parameter kedalaman) yang kecil sampai kedalaman tertentu. Distribusi suhu yang besar pada jarak kedalaman air yang kecil disebut thermocline (Nontji, 1987). Suhu di laut adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi kehidupan organisme lautan, karena suhu mempengaruhi baik aktifitas metabolisme maupun perkembangbiakan organisme-organisme di laut.
2. Salinitas
      Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05‰. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5‰. Lebih dari 5‰, disebut brine (Nontji, 1987).
Salinitas adalah berat zat-zat organik yang larut dalam 1 kg air laut. Ciri yang paling khas dimiliki oleh laut yang diketahui oleh setiap orang adalah rasanya yang asin. Hal ini disebabkan karena dalam laut terdapat berbagai macam garam terutama NaCl. Di perairan samudra salinitas berkiasar antara 34-35‰. Diperairan pantai terjadi penurunan salinitas karena adanya pengenceran oleh aliran sungai. Sebab salinitas di laut dipengaruhi oleh faktor seperti sirkulasi air, penguapan, curah hujan, dan aliran sungai (Nontji, 1987).
3. Kecerahan
      Kecerahan air merupakan ukuran kejernihan suatu perairan. Semakin tinggi kecerahan suatu perairan, maka semakin dalam cahaya menembus ke dalam air. Kecerahan air menentukan ketebalan lapisan produktif. Berkurangnya kecerahan air akan mengurangi kemampuan fotosintesis dari tumbuhan air, selain itu dapat pula mempengaruhi kegiatan fisiologi biota air, dalam hal ini masuknya bahan-bahan ke dalam suatu perairan terutama yang berupa suspensi dapat mengurangi kecerahan air.
Kecerahan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, absorbsi cahaya oleh air, panjang gelombang cahaya, pemantulan cahaya oleh permukaan air, geografis, kekeruhan, warna air dan musim. Kecerahan erat kaitannya dengan kekeruhan, karena kemampuan cahaya untuk menembus lapisan perairan dipengaruhi oleh kekeruhan air. Kecerahan dapat berpengaruh pada biota laut maupun dalam perkembangna obyek wisata selam di suatu daerah. Sedangkan perairan yang berwarna kehitaman biasanya menunjukkan tingginya kandungan bahan organik yang terurai dan hal ini mengganggu kecerahan perairan.
      Kecerahan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, absorbsi cahaya oleh air, panjang gelombang cahaya, pemantulan cahaya oleh permukaan air, geografis, kekeruhan, warna air dan musim. Kejernihan air diukur dengan penampakan kecerahan yang mencapai kedalaman 5m atau lebih. Perairan yang subur dan produktif ditandai dengan adanya plankton, air berwarna hijau atau abu-abu coklat. (Sulistijo et al. 1996).
2.3. Sistem Musim Di Indonesia
       Menurut Wirtky (1961), keadaan musim di Indonesia terbagi menjadi tiga yaitu :
1.    Musim Barat (Desember - April), pada musim barat pusat tekanan udara tertinggi berkembang diatas benua Asia dan pusat tekanan rendah terjadi diatas benua Australia sehingga angin berhembus dari barat laut menuju tenggara. Musim barat umumnya membawa curah hujan yang tinggi. Angin musim barat berhembus pada bulan Oktober- April, matahari berada di belahan bumi selatan, mengakibatkan belahan bumi selatan khusunya benua Australia lebih banyak memperoleh matahari daripada benua Asia. Akibatnya di benua Australia bertemperatur tinggi dan tekanan udara rendah (minimum). Sebaliknya di benua Asia yang mulai ditinggalkan matahari temperaturnya rendah dan tekanan udaranya tinggi (maksimum). Oleh karena itu terjadi pergerakan angin dari benua Asia ke benua Australia sebagai angin musim barat. Angin ini melewati Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia serta Laut Cina Selatan. Karena melewati lautan, banyak membawa uap air dan sampai di kepulauan Indonesia terjadi hujan.
2.    Musim Timur (April- Oktober), pada musim timur pusat tekanan udara rendah yang terjadi diatas Benua Asia dan pusat tekanan udara tinggi diatas Benua Australia menyebabkan angin berhembus dari tenggara menuju barat laut. Angin musim Timur berhembus setiap bulan April- Oktober, ketika matahari bergerak ke belahan bumi utara. Di belahan bumi utara khususnya Benua Asia bertemperatur tinggi dan tekanan udara rendah (minimum). Sebaliknya di benua Australia yang ditinggalkan matahari, temperature rendah dan tekanan udara tinggi (maksimum). Terjadi pergerakan angin dari Benua Australia ke Benua Asia melalui Indonesia sebagai angin musim timur.
3.    Musim Peralihan (Maret– Mei dan September– November), periode Maret- Mei dikenal sebagai musim peralihan I (satu) atau musim pancaroba awal tahun. Sedangkan periode September- November disebut musim peralihan II (dua) atau musim pancaroba akhir tahun.

HUBUNGAN IKAN KARANG PADA TERUMBU BUATAN (Artificial reef) DI PERAIRAN DESA GUAEMAADU KECAMATAN JAILOLO SELATAN KABUPATEN HALMAHERA BARAT

                                                          I.    PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang
      Ikan karang merupakan ikan yang hidup berkembang biak dan mencari makan di sekitar ekosistem terumbu karang. Ikan karang pada umumnya berukuran kecil dan relatif  tidak berpindah-pindah dan sebagian besar merupakan ikan hias. Potensi ikan karang yang melimpah dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi serta merupakan komoditi ekspor mendorong eksploitasinya secara besar-besaran, yang dapat mengancam kelestariannya. Meskipun sumberdaya perikanan merupakan sumberdaya yang dapat pulih kembali namun sifatnya yang terbatas sehingga perlu pengelolaan secara bijaksana, terkendali dan terencana (Purwanti, 2004).
         Jenis ikan pada terumbu karang menyesuaikan diri dengan jaring makanan dalam beberapa cara sehingga ada suatu keseimbangan yang rumit dari banyak hubungan mangsa memangsa. Beberapa kelompok ikan tentu saja penting untuk ekosisten terumbu karang. Contohnya pada ikan family Chaetodontidae, memiliki makanan kegemarannya sendiri yaitu polyp karang, yaitu dengan jalan memperhatikan jumlah induvidu dan keragaman jenisnya.
        Kerusakan terumbu karang yang diakibatkan oleh penggunaan bahan peledak di sekitar perairan Jailolo, menurut keterangan beberapa warga di sekitarnya telah berlangsung lama dan menyebabkan terjadinya kerusakan terumbu karang dalam hamparan yang luas dan pada saat ini tidak lagi berlangsung. Bahkan pada beberapa tempat di bagian terumbu karang yang rusak gejala ”coral recruitment” atau perkembangan terumbu-terumbu muda dapat terlihat (Supriharyono. 2002).
Selain kerusakan yang terjadi diakibatkan oleh penggunaan bahan peledak, kerusakan terumbu karang dibeberapa lokasi sekitar perairan Jailolo disebabkan oleh kerusakan secara alamiah yaitu munculnya terumbu karang melewati ketinggian permukaan air laut (coral expouse phenomena) dalam waktu yang lama. Untuk mengantisipasi masalah ini, maka telah dilakukannya peletakan terumbu buatan pada bulan oktober 2006 sebanyak 10 unit (Wahidin, 2006).
          Waktu pelaksanaan kegiatan peletakan terumbu buatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2006 di Perairan Desa Guaemadu Kecamatan Jailolo Selatan, Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara. Kondisi terumbu buatan di perairan Desa Guaemadu Kecamatan Jailolo Selatan dari hasil pengamatan sudah efektif sebagai terumbu alami dan mampu menciptakan tempat untuk habitat baru. Ini disebabkan karena pada terumbu buatan tersebut sudah ditumbuhi biota penempel seperti terumbu karang alami, algae dan sudah dihuni oleh berbagai jenis ikan.(boy umrun)
        Bentuk terumbu buatan seperti balok dengan ukuran tinggi 1,5 m dan lebar bawah 1 m dan lebar atas 50 cm dan bahan yang digunakan dalam terumbu buatan yaitu beton dan besi, pada terumbu buatan tersebut terdapat lubang (celah) karna organisme yang hidup di terumbu buatan menjadikan lubang atau celah sebagai tempat bersembunyi untuk menghindar dari predator.
        Untuk mengetahui efektifitas dari terumbu buatan sebagai pengganti terumbu karang alami yang rusak, maka dapat di lihat dari keanekaragaman jenis ikannya. Suatu ekosistem terumbu karang dikatakan masih sehat apabila terdapat indikator spesies (Kusen dkk, 1998 dalam Wenas 2004). Lebih lanjut Reese, (1997) dalam Marsaoly (2004), mengatakan bahwa indikator yang baik digunakan adalah ikan yang termasuk family Chaetodontidae karena bersifat teritorial, yaitu mudah diduga pola pergerakannya dan menetap di daerah terumbu karang sebagai tempat mencari makan.
      Berdasarkan latar belakang dari masalah tersebut, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul ”Hubungan Kelimpahan Ikan Karang Pada Tutupan Terumbu Buatan di Perairan  Desa Guaemadu Kecamatan Jailolo Selatan, Kabupaten Halmahera Barat.”
1.2. Tujuan
      1.    Mengetahui jenis-jenis ikan karang yang ada di daerah terumbu buatan di perairan Desa    Guaemadu
     2.    Mengetahui struktur komunitas yang meliputi kelimpahan, kepadatan relatif, keanekaragaman jenis, dominasi jenis dan kemerataan jenis ikan karang yang hidup pada terumbu buatan di Desa Guaemadu perairan jailolo selatan.
      3.    Mengetahui hubungan antara kelimpahan jenis ikan karang dengan tutupan terumbu buatan
1.3.      Manfaat
     Adapun manfaat yang hendak dicapai yaitu untuk memberikan informasi ilmiah kepada masyarakat maupun instansi yang terkait tentang fungsi dari terumbu buatan dan keberadaan ikan-ikan karang yang terdapat pada terumbu buatan di perairan Desa Guaemadu Kecamatan Jailolo selatan

                                                             II.    TINJAUAN PUSTAKA
2.1.  Pengertian Ikan dan Ikan Karang
       Ikan merupakan vertebrata tertua dan pertama dan termasuk kelompok Chordata. Ikan merupakan hewan bertulang belakang yang tumbuh dan hidup di dalam air, berdarah dingin, mempunyai insang dan menggunakan sirip untuk berenang. Dari 13.500 jenis ikan yang menghuni laut terdapat sekitar 4.000 jenis ikan yang menempati perairan di sekitar terumbu karang (Supriharyono, 2002). Menurut definisi Food and Agriculture Organization (FAO), ikan tidak hanya terbatas pada pengertian ikan yang selama ini dipahami orang awam, yaitu ikan (finfish) yang bersirip dan bersisik serta dapat berenang dengan bebas di air. Definisi FAO mengenai ikan adalah organisme laut yag terdiri dari ikan (finfish), binatang berkulit keras (krustasea) seperti udang dan kepiting, moluska seperti cumi dan gurita, binatang air lainnya seperti penyu dan paus, rumput laut, serta lamun laut. Definisi ini telah diadopsi sebagai definisi ikan dalam konteks perikanan di Indonesia.
       Ikan karang merupakan sekumpulan ikan yang berada di daerah tropis dan kehidupannya berkaitan erat dengan terumbu karang (Sale, 1991 dalam Sadewo, 2006). Ikan-ikan tersebut memanfaatkan terumbu karang secara langsung maupun tidak langsung untuk kepentingan hidupnya. Menurut Nybakken (1988), ikan karang merupakan organisme yang sering dijumpai di ekosistem terumbu karang. Keberadaan mereka telah menjadikan ekosistem terumbu karang sebagai ekosistem paling banyak dihuni biota air.


2.2.    Klasifikasi Ikan Karang
Terangi (2004) mengemukakan bahwa Ikan karang dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Philum : Chordata
Klas : Osteichthyes
Ordo : Perciformes
Famili : contoh (Lutjanidae)
Genus : Contoh (Lutjanus)
Spesies : Contoh ( Lujanus kasmira)
  
2.3.    Pengelompokan Ikan Karang
2.3.1.    Ikan karang dikelompokkan berdasarkan siklus hidup
         Berdasarkan siklus hidupnya, ikan di perairan terumbu karang dibagi menjadi 2 (dua) kelompok yaitu yang bersifat menetap dan sementara. Kelompok yang bersifat menetap adalah kelompok ikan yang seluruh siklus hidupnya berada di perairan terumbu karang yaitu lahir, besar, mencari makan, berlindung dan memijah. Contohnya Chaetodontidae, Serranidae, Pomacanthidae, adalah ikan-ikan terumbu karang. Sedangkan kelompok ikan yang bersifat sementara adalah kelompok ikan yang hanya sebagian siklus hidupnya yaitu larva atau dewasa yang menempati perairan di sekitar terumbu karang. Contohnya adalah ikan yang hidup di laut lepas datang ke perairan karang untuk memijah (Purwanti, 2004).
2.3.2.    Ikan karang dikelompokkan berdasarkan distribusi harian
       Berdasarkan distribusi hariannya, ikan karang umumnya terbagi 2 (dua) kelompok besar, yaitu ikan diurnal dan nokturnal. Ikan diurnal aktif disiang hari dan merupakan kelompok terbesar di ekosistem terumbu karang. Jenis-jenisnya adalah famili Pomacentridae, Labridae, Acanthuridae, Chaetodontidae, Serranidae, Pomacanthidae, Lutjanidae, Balistidae, Cirrhitidae, Tetraodontidae, Bleniidae dan Gobiidae. Ikan- ikan diurnal makan dan tinggal di permukaan karang serta memakan plankton yang lewat di atasnya. Pada malam hari ikan-ikan diurnal akan masuk dan berlindung di dalam karang, keberadaan ikan tersebut akan digantikan oleh ikan-ikan nokturnal yaitu ikan yang aktif di malam hari. Mereka keluar pada malam hari untuk mencari makan, dan siang hari mereka masuk kembali ke celah-celah karang. Ikan-ikan nokturnal meliputi Holocentridae, Apogonidae, Haemulidae, Muraenidae, Scorpaenidae, Serranidae dan Labridae. Selain ikan diurnal dan nokturnal, ada pula ikan-ikan yang sering melintasi ekosistem terumbu karang seperti Scombridae, barracuda (Sphyraenidae), ekor kuning (Caesionidae) dan hiu (Alopiidae) (Allen dan Steene, 1990 dalam Purwanti, 2004).
2.3.3.    Ikan karang dikelompokkan berdasarkan periode aktif mencari makan
        Kelompok ikan karang yang dikelompokan berdasarkan periode aktif mencari makan dapat dibagi menjadi 3 kelompok., yakni :
       1.    Ikan Nokturnal (aktif ketika malam hari), contohnya pada ikan-ikan dari Suku Holocentridae (Swanggi), Suku Apogoninade (Beseng), Suku Hamulidae. Priacanthidae (Bigeyes), Muraenidae (Eels), Seranidae (Jewfish) dan beberapa dari suku dari Mullidae (goatfishes) dll.
     2.    Ikan Diurnal (aktif ketika siang hari), contohnya pada ikan-ikan dari Suku Labraidae (wrasses), Chaetodontidae (Butterflyfishes) Pomacentridae (Damselfishes), Scaridae (Parrotfishes), Acanthuridae(Surgeonfishes), Bleniidae(Blennies), Balistidae (triggerfishes), Pomaccanthidae (Angelfishes), Monacanthidae, stracionthidae(Boxfishes),etraodontidae, Canthigasteridae dan beberapa dari Mullidae (goatfishes).
     3.    Ikan Crepuscular (aktif diantara) contohnya pada ikan-ikan dari suku Sphyraenidae (Baracudas), Serranidae (groupers), Carangidae (Jacks), Scorpaenidae (Lionfishes), Synodontidae (Lizardfishes), Carcharhinidae, lamnidae, Spyrnidae (Sharks) dan beberapa dari Muraenidae (Eels) (Terangi, 2004).

2.4.    Jenis Ikan Karang
        Pengenalan jenis ikan karang dengan jumlah spesies yang demikian banyak bukan pekerjaan yang mudah. Hal ini dikarenakan pergerakan ikan karang yang sangat aktif, sehingga menyulitkan pengamatan, disamping itu juga dibutuhkan keterampilan menyelam yang baik dan penguasaan ilmu identifikasi ikan yang didasarkan pada ciri-ciri spesifiknya baik secara morfologi maupun anotominya (Terangi, 2004).
      Untuk keperluan praktis, pengenalan secara cepat terhadap jenis-jenis ikan karang dapat dilakukan dengan mengetahui bentuk umum ikan karang berdasarkan familinya. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa pada umumnya ikan yang mempunyai pola bentuk tubuh yang sama digolongkan kedalam satu famili. Jenis-jenis ikan karang tersebut antara lain :
     1.    Ikan Target adalah Ikan yang merupakan target untuk penangkapan atau lebih dikenal juga dengan ikan ekonomis penting atau ikan kosumsi seperti; Seranidae, Lutjanidae, Kyphosidae, Lethrinidae, Acanthuridae, Mulidae, Siganidae Labridae (Chelinus, Himigymnus, choerodon) dan Hamulidae (Terangi, 2004; LIPI, 2006).
     2.    Ikan Indikator Sebagai ikan penentu untuk terumbu karang karena ikan ini erat hubunganya dengan kesuburan terumbu karang yaitu ikan dari Famili  Chaetodontidae/kepe-kepe (Terangi, 2004; LIPI, 2006).
    3.    Ikan Lain (Mayor Famili) adalah Ikan ini umumnya dalam jumlah banyak dan banyak dijadikan ikan hias air laut (Pomacentridae, Caesionidae, Scaridae, Pomacanthidae Labridae,  pogonidae dll.) (Terangi, 2004). Lebih lanjut LIPI (2006) mengemukanakan bahwa kelompok ikan karang ini selalu dijumpai di terumbu karang yang tidak termasuk dalam kedua katagori diatas.
    
2.5    Pengertian Ekosistem Terumbu Karang
      Istilah terumbu karang tersusun atas dua kata, yaitu terumbu dan karang, yang apabila berdiri sendiri akan memiliki makna yang jauh berbeda bila kedua kata tersebut digabungkan.  Istilah terumbu karang sendiri sangat jauh berbeda dengan karang terumbu, karena yang satu mengindikasikan suatu ekosistem dan kata lainnya merujuk pada suatu komunitas bentik atau yang hidup di dasar substrat. Berikut ini adalah definisi singkat dari terumbu, karang, karang terumbu, dan terumbu karang
     Terumbu (Reef) merupakan Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain yang mensekresi kapur, seperti alga berkapur dan moluska. Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir. Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah punggunungan laut yang terbentuk oleh batu karang atau pasir di dekat permukaan air (Suharsono, 1996).   
       Karang (Coral) disebut juga karang batu (stony coral), yaitu hewan dari Ordo Scleractinia, yang mampu mensekresi CaCO3. Hewan karang tunggal umumnya disebut polip. Karang terumbu Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik (hermatypiccoral). Berbeda dengan batu karang (rock), yang merupakan benda mati. Terumbu karang Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis-¬jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis¬jenis moluska, krustasea, ekhinodermata, polikhaeta, porifera, dan tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis plankton dan jenis-jenis nekton (Suharsono, 1996).
      Terumbu karang atau coral reefs adalah ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) yang dihasilkan oleh organisme karang pembentuk terumbu (karang hermatipik) khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya dari filum Cnidaria, ordo Scleractinia yang hidup bersimbiosis dengan zooxantellae, dan sedikit tambahan dari algae berkapur serta organisme lain yang menyekresi kalsium karbonat. Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem laut. Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih dan merupakan ekosistem yang sangat penting dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Salah satu komponen utama sumber daya pesisir dan laut utama, disamping hutan mangrove dan padang lamun. (Dahuri, 2003)
       Karang pembentuk terumbu (karang hermatipik) hidup berkoloni, dan tiap individu karang disebut polip yang menempati mangkuk kecil yang dinamakan koralit. Tiap mangkuk koralit mempunyai beberapa septa yang tajam dan berbentuk daun yang tumbuh keluar dari dasar koralit, dimana septa ini merupakan dasar penentuan spesies karang. Tiap polip adalah hewan berkulit ganda, dimana kulit luar yang dinamakan epidermis dipisahkan oleh lapisan jaringan mati (mesoglea) dari kulit dalamnya yang disebut gastrodermis. Dalam gastrodermis terdapat tumbuhan renik bersel tunggal yang dinamakan zooxantellae yang hidup bersimbiosis dengan polip. Zooxantellae dapat menghasilkan bahan organik melalui proses fotosintesis, yang kemudian disekresikan sebagian ke dalam usus polip sebagai pangan. (Veron 1996)
2.6   Fungsi Terumbu karang Buatan
        Yang dimaksud dengan Terumbu Karang Buatan adalah benda-benda keras seperti kapal bekas, mobil bekas, ban mobil bekas dan bahan-bahan beton lainnya yang diletakkan di dasar laut yang mendatar, berdasar pasir halus atau lumpur, dengan tujuan untuk merubah habitat dasar laut yang berpasir halus dan miskin ikan itu menjadi habitat yang keras dan kaya akan ikan-ikan komersial serta biota lainnya. Terumbu Karang Buatan semacam ini mula-mula digunakan orang untuk meningkatkan hasil ikan pada tempat-tempat yang kurang produktif seperti pantai berpasir/berlumpur, dan untuk meningkatkan penghasilan nelayan-nelayan kecil yang tidak mampu menangkap ikan di lautan terbuka. Terumbu buatan merupakan suatu struktur yang dengan sengaja ditempatkan didasar perairan dan meniru beberapa karakteristik terumbu karang alami. Sifat dari material terumbu buatan yang digunakan adalah memenuhi syarat-syarat khusus, seperti mampu tahan lama di dalam air, aman dan tidak bersifat racun, bersifat dengan baik dan ekonomis (Pustlibang Perikanan, 1994 dalam Reppie, 2006).
      Terumbu buatan setelah beberapa waktu ditempatkan didasar perairan akan ditumbuhi oleh berbagai jenis biota penempel seperti algae, terumbu karang dan biota lainya yang diantaranya merupakan sumber makan ikan, sehingga dengan demikian ikan akan datang ke terumbu selain untuk mencari makan juga dapat dijadikan sebagai tempat untuk berlindung, dan akhirnya akan berkembang biak di terumbu buatan tersebut (Walsium dan Murniyati, 1997).
Seamen dan Jensen (2000), mencatat bahwa minimal terdapat 12 jenis tujuan penggunaan terumbu buatan yaitu untuk :
1.    Meningkatkan produksi perikanan rakyat
2.    Meningkatkan produksi perikanan komersial
3.    Lokasi budidaya laut
4.    Lokasi rekreasi skin diving
5.    Lokasi pariwisata bawah laut
6.    Mengendalikan mortalitas penangkapan ikan
7.    Mengendalikan siklus hidup organisme laut
8.    Melindungi habitat laut
9.    Daerah konservasi keanekaragaman hayati laut
10.    Mengurangi degradasi dan kehilangan habitat laut
11.    Penelitian dan pendidikan.

2.6.1    Penentuan Lokasi
      Keberhasilan metode terumbu karang buatan didasari oleh teori yang mengatakan bahwa jenis-jenis ikan tertentu mempunyai kecenderungan untuk mendekati atau menyukai benda-benda keras, adanya kecenderungan ikan-ikan untuk selalu berkumpul satu sama lain (schooling behavior), kecenderungan untuk mencari perlindungan, serta untuk memperoleh makanan. Oleh karena itu terumbu karang Buatan sebaiknya diletakkan di dasar laut yang mendatar berdasar pasir atau lumpur yang miskin akan jenis-jenis ikan buruan (sport fishes) yang bersifat menetap, di habitat keras atau di daerah tanaman algae yang lebat, dan pada kedalaman tidak lebih dari 20 meter sehingga dengan diletakkannya terumbu karang Buatan di tempat demikian diharapkan akan dapat mendatangkan ikan-ikan buruan tersebut. Sedangkan untuk kepentingan penyelaman dengan menggunakan scuba tidak diperlukan adanya “decompression chamber” (Supriharyono, 2002).


                                              III.    METODOLOGI  PENELITIAN
3.1.     Tempat dan Waktu
        Kegiatan penelitian ini dilakukan pada terumbu buatan di Perairan Desa Guaemadu Kecamatan Jailolo Selatan, Kabupaten Halmahera Barat. Provinsi Maluku Utara dan waktu pelaksanaanya dilakukan pada bulan Desember 2010.
3.2.  Alat dan Bahan
        Adapun alat dan bahan yang digunakan selama penelitian berlangsung dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini :
Tabel 2. Alat dan Bahan yang digunakan selama penelitian
   Alat dan Bahan    Kegunaan
•    9 (Sembilan) unit terumbu buatan
•    SCUBA
•    Kamera bawah air
•    1 unit motor laut
•    Alat tulis menulis
•    Hand Refraktometer
•    Divecom
•    Buku identifikasi ikan (Peristiwadi, 2006)
•    Sabak dan pensil
•    Ikan-ikan karang     •    Habitat ikan-ikan karang
•    Peralatan dalam penyelaman
•    Dokumentasi
•    Alat transportasi
•    Mencatat data
•    Alat untuk mengukur salinitas
•    Alat mengukur suhu dalam air
•    Panduan identifikasi ikan karang
•    Untuk menulis dalam air
•    Sebagai objek penelitian
3.3.     Tehnik Pengambilan Data
           Sesuai dengan jenis dan sifat data dalam mencapai tujuan untuk keakuratan data penelitian ini, secara umum pengambilan data terbagi dalam 2 bagian pokok, yakni kegiatan pengambilan data geografis (spasial) dan pengumpulan data untuk jenis-jenis ikan. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut maka kegiatan pengambilan data dapat disusun dalam beberapa tahapan kegiatan yaitu tahapan persiapan, dan cara pengambilan data di lapangan. Secara rinci tahapan tersebut di uraikan sebagai berikut
 3.3.1.   Proses Persiapan.
         Pada tahapan ini kegiatan yang dilakukan adalah mempersiapkan alat dan bahan yang akan dipergunakan dalam melakukan pengamatan visual ikan. Kegiatan tersebut selanjutnya ditindak lanjuti dengan menyusun jadwal kegiatan, mempersiapkan team yang akan siap untuk membatu serta persiapan komsumsi yang akan di bawah di lokasi pengambilan data. Kegiatan lain pada tahap persiapan ini berupa pengumpulan data pengamatan aktifitas masyarakat disekitar lokasi penelitian sebagai informasi data.
3.3.2    Tahap Pengambilan Data Lapangan
      Kegiatan yang dilakukan dalam tahapan ini meliputi pengukuran parameter perairan serta pengumpulan data pada jenis-jenis ikan karang yang terdapat pada terumbu buatan.
Data struktur komunitas ikan-ikan karang pada terumbu buatan di amati dengan menggunakan metode ”Underwater Census Visual (UCV)” (English et al. 1997). Dengan kamplingan area 5 x 5 m pada terumbu buatan. yaitu dengan cara melakukan pengamatan untuk mengidentifikasi objek penelitian dengan cara penyelaman. Dimana penyelaman dilakukan pada lokasi terumbu buatan (9 unit) dengan cara mengamati dan mengidentifikasi jenis-jenis ikan karang yang terdapat di sekitar areal terumbu buatan.
Adapun tahapan pengamatan pada jenis-jenis ikan
     1.    Penyelaman pada tempat yang sudah di tandai sebelumnya.
Pada tahapan ini kegiatan yang akan dilakukan adalah memberikan sinyal atau tanda (pelampung) pada terumbu buatan pertama. Guna untuk mempermudah pengamatan objek penelitian pada terumbu buatan.
    2.    Pengamatan ikan dilakukan dengan cara berenang perlahan-lahan menggunakan peralatan SCUBA  menyususri tempat objek penelitian yakni terumbu buatan sambil mengidentifikasi keberadaan ikan-ikan yang terdapat di sekitarnya. Setelah sampai ke tempat objek penelitian peneliti berhenti sejenak selama 10-15 menit guna untuk menarik perhatian ikan atau untuk mengembalikan ikan karang yang terganggu akibat aktifitas pergerakan sendiri.
      3.    Spesies ikan yang terlihat dengan jarak pandang sejauh 1,5 m. dari batas jarak tersebut dapat di catat di papan sabak, spesies ikan karang yang tidak dapat teridentifikasi secara langsung oleh peneliti dituliskan cirri-cirinya di papan sabak atau dengan cara memotret dan merekam hasil pengamatan dengan menggunakan kamera bawah air yang sudah di setting pada mode Video. untuk kemudian hasilnya diidentifikasi dengan menggunakan buku kunci identifikasi dari Kuiter (1992) dan  (Peristiwadi, 2006)
3.4.     Teknik Analisis Data
3.4.1.    Kelimpahan Ikan Karang
          
dimana :      X   =     Kelimpahan ikan
Xi     =     Jumlah ikan pada stasiun pengamatan ke-i
n     =     Luas terumbu karang yang diamati (m2)

3.4.2.    Kepadatan Relatif
         Analisis kepadatan relatif diperoleh dengan menggunakan indeks kepadatan relatif (Cox, 1967).
                                           Jumlah induvidu tiap spesies
   Kelimpahan relatif (%)  =                                                                  x 100
                                                 Jumlah induvidu seluruh spesies

3.4.3.    Keanekaragaman Jenis
Untuk menghitung besarnya keanekaragaman digunakan metode Shannon dan Wiener (Ludwig dan Reynolds, 1988)
                                   
Dimana :
H’ = Indeks keragaman
pi  = ni/N
ni  = jumlah individu dalam setiap spesies
N  = jumlah individu dalam seluruh spesies
Keterangan :
•    Bila : H’ < 1 : keragaman rendah dengan jumlah individu tidak seragam dan salah satu spesiesnya ada yang dominan
•    1 ≤ H’ ≤ 3 : keragaman sedang dengan jumlah individu tiap spesies tidak seragam tetapi tidak ada yang dominan
•    H’ > 3 : keragaman tinggi dengan jumlah individu tiap spesies seragam dan tidak ada yang dominan.


3.4.4.    Indeks Dominansi
                                                         
Keterangan :
Ni = Jumlah induvidu tiap jenis
N = Jumlah induvidu seluruh jenis
Dengan kriteria :
Nilai C berkisar 0-1
Jika C mendekati 0 berarti tidak ada spesies yang mendominasi dan apabila nilai C mendekati 1 berarti adanya salah satu spesies yang mendominasi.
3.4.5.    Indeks Kemerataan  (Wibiosono, 2005)

Keterangan :
E        = Indeks kemerataan
H’      = Keanekaragaman jenis
H max  = Ln S
S       =  Jumlah Spesies
Dengan kriteria
> 0,81        = Penyebaran jenis sangat merata
0,61-0,81    = Penyebaran jenis lebih merata
0,41-0,60    = Penyebaran jenis merata
0,21-0,40    = Penyebaran jenis cukup merata
< 0,21        = Penyebaran jenis tidak merata

3.4.6.    Tutupan Karang
      Untuk analisis presentase tutupan karang dipakai formulasi English at al (1994) sebagai berikut :

3.4.7.    Hubungan Kelimpahan Ikan Karang Dengan Kondisi Tutupan Karang Buatan
Persamaan regresi linier dari Y terhadap X (Sir Francis Galton, 1877)
Y = a + bX
Keterangan :
Y = Kelimpahan ikan karang                            a = Intersep
X = Kondisi tutupan karang buatan                         b = Koefisien regresi/ slop

Kamis, 06 September 2012

KEPITING

I.       PENDAHULUAN
A.          Latar Belakang

Wilayah pesisir Indonesia memiliki berbagai macam tipologi habitat serta keanekaragaman biota yang tinggi. Kanekaragaman hayati tersebut merupakan sumber kehidupan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan atau perdagangan, sehingga keberadaannya sangat rawan terhadap kepunahan akibat aktifitas kehidupan dan pembangunan. Beberapa bentuk ancaman kelestarian keanekaragaman hayati antara lain karena pencemaran, eksploitasi sumber daya alam untuk perdagangan, penebangan hutan dan sebagainya.
Salah satu bentuk ekosistem pesisir Indonesia adalah ekosistem hutan mangrove. Hutan mangrove sebagai salah satu ekosistem yang unik merupakan sumberdaya alam yang sangat potensial, mendukung hidupnya keanekaragaman flora dan fauna. Komunitas terestris akuatik yang ada di dalamnya secara langsung atau tidak langsung berperan penting bagi kelangsungan hidup manusia baik dari segi ekonomi, sosial maupun lingkungan (ekologi). Tetapi ekosistem ini sangat mudah dipengaruhi oleh ekosistem yang ada di sekitarnya serta sulit untuk dipulihkan kembali jika terjadi degradasi.
Ekosistem pesisir memiliki bermacam-macam fungsi, antara lain fungsi fisik, biologis dan sosial ekonomis. Fungsi biologis yang dimiliki kawasan pesisir antara lain sebagai daerah asuhan (nursery grund), daerah mencari makan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) dari berbagai biota laut, tempat bersarangnya burung, habitat alami bagi berbagai jenis biota, sumber plasma nutfah (Rahmawaty, 2006).
Diantara sekian banyak fungsi tersebut, fungsi ekosistem pesisir yang terpenting adalah sebagai daerah asuhan, mencari makan dan daerah pemijahan bagi ikan, udang, kepiting, moluska serta vertebrata lainnya. Daerah ini terbentuk secara alamiah yang  membuat suasana yang aman dan nyaman bagi hewan-hewan tersebut bertelur, mencari makan dan membesarkan anak sebelum kembali ke laut menjelang fase dewasa (MacKinnon, et al., 2000).
Seluruh fauna yang hidup di dalam ekositem pesisir mempunyai peranan yang penting dalam menjaga keseimbangan ekologi. Sekian banyak fauna yang hidup terdapat beberapa spesies kunci (keystone species) yang memegang peranan yang sangat penting. Salah satu spesies tersebut adalah kepiting yang hidup di dalam ekosistem pesisir. Kepiting diusulkan sebagai keystone species di kawasan pesisir karena setiap aktivitasnya mempunyai pengaruh utama pada berbagai proses paras ekosistem. Peran kepiting di dalam ekosistem diantaranya mengkonversi nutrien dan mempertinggi mineralisasi, meningkatkan distribusi oksigen di dalam tanah, membantu daur hidup karbon, serta tempat penyedia makanan alami bagi berbagai jenis biota perairan (Prianto, 2007).

B.           Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk mengenal kepiting dari berbagai aspek, baik morfologi, daur hidup, habitatnya maupun metode sampling yang digunakan dalam penelitian.

II.          MORFOLOGI DAN ANATOMI KEPITING
Kepiting adalah binatang crustacea berkaki sepuluh, yang biasanya mempunyai "ekor" yang sangat pendek (bahasa Yunani: brachy = pendek, ura = ekor), atau yang perutnya sama sekali tersembunyi di bawah thorax. Hewan ini dikelompokkan ke dalam Phylum Athropoda, Sub Phylum Crustacea, Kelas Malacostraca, Ordo Decapoda, Suborder Pleocyemata dan Infraorder Brachyura. Tubuh kepiting umumnya ditutupi dengan exoskeleton (kerangka luar) yang sangat keras, dan dipersenjatai dengan sepasang capit. Kepiting hidup di air laut, air tawar dan darat dengan ukuran yang beraneka ragam, dari pea crab, yang lebarnya hanya beberapa milimeter, hingga kepiting laba-laba Jepang, dengan rentangan kaki hingga 4 m (Anonim, 2008).
Menurut Prianto (2007), walaupun kepiting mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam tetapi seluruhnya mempunyai kesamaan pada bentuk tubuh. Seluruh kepiting mempunyai chelipeds dan empat pasang kaki jalan (Gambar 1 dan 2). Pada bagian kaki juga dilengkapi dengan kuku dan sepasang penjepit, chelipeds terletak di depan kaki pertama dan setiap jenis kepiting memiliki struktur chelipeds yang berbeda-beda. Chelipeds dapat digunakan untuk memegang dan membawa makanan, menggali, membuka kulit kerang dan juga sebagai senjata dalam menghadapi musuh. Di samping itu, tubuh kepiting juga ditutupi dengan  Carapace. Carapace merupakan kulit yang keras atau dengan istilah lain exoskeleton (kulit luar) berfungsi untuk melindungi organ dalam bagian kepala, badan dan insang.
Kepiting sejati mempunyai lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di hampir semua jenis kepiting, kecuali beberapa saja (misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di bawah cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang. Insang kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih (phyllobranchiate), mirip dengan insang udang, namun dengan struktur yang berbeda. Insang yang terdapat di dalam tubuh berfungsi untuk mengambil oksigen biasanya sulit dilihat dari luar. Insang terdiri dari struktur yang lunak terletak di bagian bawah carapace. Sedangkan mata menonjol keluar berada di bagain depan carapace.



Berdasarkan anatomi tubuh bagian dalam, mulut kepiting terbuka dan terletak pada bagian bawah tubuh. Beberapa bagian yang terdapat di sekitar mulut berfungsi dalam memegang makanan dan juga memompakan air dari mulut ke insang. Kepiting memiliki rangka luar yang keras sehingga mulutnya tidak dapat dibuka lebar. Hal ini menyebabkan kepiting lebih banyak menggunakan sapit dalam memperoleh makanan. Makanan yang diperoleh dihancurkan dengan menggunakan sapit, kemudian baru dimakan (Shimek, 2008). 

Kepiting bakau ukurannya bisa mencapai lebih dari 20 cm. Sapit pada jantan dewasa lebih panjang dari pada sapit betina. Kepiting yang bisa berenang ini terdapat hampir di seluruh perairan pantai Indonesia, terutama di daerah mangrove, di daerah tambak air payau, muara sungai, tetapi jarang ditemukan di pulau-pulau karang (Nontji, 2002). Disamping morfologi sapit, kepiting jantan dan betina dapat dibedakan juga berdasarkan ukuran abdomen, dimana abdomen jantan lebih sempit dari pada abdomen betina (Gambar 4).



Irmawati (2005) melaporkan bahwa, kepiting bakau dapat diidentifikasi dengan mengamati ciri-ciri meristik dan morfometril serta pola warna dengan mengacu pada kunci identifikasi Keenan, Carpenter dan Niem (l998). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa berdasarkan warna, bentuk duri pada frontal dan jumlah duri pada karpus, teridentifkasi 3 spesies kepiting bakau di kawasan Mangrove Sungai Keera Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, yaitu Scylla olivacea, Scylla serrata dan Scylla paramamosain dimana Scylla olivacea adalah jenis yang dominan, yaitu 92% dari total sampel. Terdapat perbedaan karakter meristik yang dimiliki oleh ketiga spesies kepiting bakau yang ditemukan di kawasan mangrove tersebut.
Sebagian besar kepiting yang hidup di mangrove memperlihatkan adaptasi morfologis saat bernafas ketika berada di darat. Ukuran insang kepiting berkorelasi dengan habitat dan aktivitas metabolik. Spesies intertidal di daerah temperate umumnya telah mereduksi luas insang dibanding dengan spesies akuatik. Gejala ini terjadi pada spesies kepiting mangrove Ocypode  dan Uca  yang mempunyai beberapa filamen insang dibanding kerabat dekatnya di spesies akuatik. Filamen insang mengeras sebagai pemelihara bentuk, orientasi  dan fungsi tubuh bila kepiting keluar dari air. Celah insang menjadi vaskular dan dapat berfungsi sebagai paru-paru. Kepiting ini memompa udara melalui udara yang tertahan di dalam celah insang yang harus diperbaharui secara teratur dengan sering masuk ke dalam air (Hutching, dan Saenger, 2001 dalam Prianto, 2007).
Menurut Prianto (2007) bahwa, bagian tubuh kepiting juga dilengkapi bulu dan rambut sebagai indera penerima. Bulu-bulu terdapat hampir di seluruh tubuh tetapi sebagian besar bergerombol pada kaki jalan. Untuk menemukan makanannya kepiting menggunakan rangsangan bahan kimia yang dihasilkan oleh organ tubuh. Antena memiliki indera penciuman yang mampu merangsang kepiting untuk mencari makan. Ketika alat pendeteksi pada kaki melakukan kontak langsung dengan makanan, chelipeds dengan cepat menjepit makanan tersebut dan langsung dimasukkan ke dalam mulut. Mulut kepiting juga memiliki alat penerima sinyal yang sangat sensitif untuk mendeteksi bahan-bahan kimia. Kepiting mengandalkan kombinasi organ perasa untuk menemukan makanan, pasangan dan menyelamatkan diri dari predator.
Kepiting memiliki sepasang mata yang terdiri dari beberapa ribu unit optik. Matanya terletak pada tangkai, dimana mata ini dapat dimasukkan ke dalam rongga pada carapace ketika dirinya terancam. Kadang-kadang kepiting dapat mendengar dan menghasilkan berbagai suara. Hal yang menarik pada berbagai spesies ketika masa kawin, sang jantan mengeluarkan suara yang keras dengan menggunaklan chelipeds-nya atau menggetarkan kaki jalannya untuk menarik perhatian sang betina. Setiap spesies memiliki suara yang khas, hal ini digunakan untuk menarik sang betina atau untuk menakut-nakuti pejantan lainnya



III.       DAUR HIDUP KEPITING

Seperti hewan air lainnya reproduksi kepiting terjadi di luar tubuh, hanya saja sebagian kepiting meletakkan telur-telurnya pada tubuh sang betina. Kepiting betina biasanya segera melepaskan telur sesaat setelah kawin, tetapi sang betina memiliki kemampuan untuk menyimpan sperma sang jantan hingga beberapa bulan lamanya. Telur yang akan dibuahi selanjutnya dimasukkan pada tempat (bagian tubuh) penyimpanan sperma. Setelah telur dibuahi telur-telur ini akan ditempatkan pada bagian bawah perut (abdomen).  Jumlah telur yang dibawa tergantung pada ukuran kepiting. Beberapa spesies dapat membawa puluhan hingga ribuan telur ketika terjadi pemijahan. Telur ini akan menetas setelah beberapa hari kemudian menjadi larva (individu baru) yang dikenal dengan “zoea”. Ketika melepaskan zoea ke perairan, sang induk menggerak-gerakkan perutnya untuk membantu zoea agar dapat dengan mudah lepas dari abdomen. Larva kepiting selanjutnya hidup sebagai plankton dan melakukan moulting beberapa kali hingga mencapai ukuran tertentu agar dapat tinggal di dasar perairan sebagai hewan dasar (Prianto, 2007). Daur hidup kepiting dapat dilihat pada Gambar 5.
Daur hidup kepiting meliputi telur, larva (zoea dan megalopa), post larva atau juvenil, anakan dan dewasa (Gambar 5 dan 8). Perkembangan embrio dalam telur mengalami 9 fase (Juwana, 2004). Larva yang baru ditetaskan (tahap zoea) bentuknya lebih mirip udang dari pada kepiting (Gambar 6). Di kepala terdapat semacam tanduk yang memanjang, matanya besar dan di ujung kaki-kakinya terdapat rambut-rambut. Tahap zoae ini juga terdiri dari 4 tingkat untuk kemudian berubah ke tahap megalopa dengan bentuk yang lain lagi (Gambar 6 dan 7). Larva kepiting berenang dan terbawa arus serta hidup sebagai plankton (Nontji, 2002). Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa larva kepiting hanya mengkonsumsi fitoplankton beberapa saat setelah menetas dan segera setelah itu lebih cenderung memilih zooplankton sebagai makanannya (Umar, 2002). Keberadaan larva kepiting di perairan dapat menentukan kualitas perairan tersebut, karena larva kepiting sangat sensitif terhadap perubahan kualitas perairan (Sara, dkk., 2006).
IV.       HABITAT DAN PENYEBARAN KEPITING
Kepiting merupakan fauna yang habitat dan penyebarannya terdapat di air tawar, payau dan laut. Jenis-jenisnya sangat beragam dan dapat hidup di berbagai kolom di setiap perairan. Sebagaian besar kepiting yang kita kenal banyak hidup di perairan payau terutama di dalam ekosistem mangrove. Beberapa jenis yang hidup dalam ekosistem ini adalah Hermit Crab, Uca sp, Mud Lobster dan kepiting bakau. Sebagian besar kepiting merupakan fauna yang aktif mencari makan di malam hari (nocturnal) (Prianto, 2007).
Kepiting pada fase larva (zoea dan megalopa) hidup di dalam air sebagai plankton. Kepiting mulai kehidupan di darat setelah memasuki fase juvenil dan dewasa seiring dengan pembentukan carapace. Ilustrasi ini dapat dilihat pada Gambar 9, dimana yang menjadi contoh pada gambar tersebut adalah kepiting kelapa. Sedangkan habitat dan penyebaran kepiting (dalam contoh kepiting merah Cancer magister) di estuary dan zona intertidal terlihat pada Gambar 10.   
Kepiting dan rajungan tergolong dalam satu suku (familia) yakni Portunidae dan seksi (sectio) Brachyura. Cukup banyak jenis yang termasuk dalam suku ini. Dr. kasim Moosa yang banyak menggeluti taksonomi kelompok ini mengemukakan bahwa di Indo-Pasifik Barat saja diperkirakan ada 234 jenis, dan di Indonesia ada 124 jenis. Di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu diperkirakan ada 46 jenis. Tetapi dari sekian jenis ini, hanya ada beberapa saja yang banyak dikenal orang karena biasa dimakan, dan tentu saja berukuran agak besar. Jenis yang tubuhnya berukuran kurang dari 6 cm tidak lazim dimakan karena terlalu kecil dan hampir tidak mempunyai daging yang berarti. Beberapa jenis yang dapat dimakan ternyata juga dapat menimbulkan keracunan (Nontji, 2002).
Menurut Prianto (2007), bahwa di seluruh dunia terdapat lebih dari 1000 spesies kepiting yang dikelompokkan  ke dalam 50 famili. Sebagian besar kepiting hidup di laut, tersebar di seluruh lautan mulai dari zona supratidal hingga di dasar laut yang paling dalam. Sebagian jenis kepiting ada yang hidup di air tawar. Keanekaragaman kepiting yang paling tinggi ada di daerah tropis dan di selatan Australia, disini lebih dari 100 jenis kepiting telah diidentifikasi.
Konsentrasi maksimum kepiting terjadi pada malam hari pada saat air pasang. Kebanyakan kepiting memanjat akar mangrove dan pohon untuk mencari makan. Pada saat siang hari, waktu pasang terendah kebanyakan kepiting tinggal di dalam lubang untuk berlindung dari serangan burung dan predator lainnya. Beberapa spesies seperti Sesarma erythrodactyla dan Paragrapsus laevis pada saat air surut, turun ke bawah untuk berasosiasi dengan telur-telur ikan.
Kepiting mangrove seperti Scylla serrata (Mud Crab) merupakan hewan yang hidup di wilayah estuaria dengan didukung oleh vegetasi mangrove. Hewan ini merupakan hewan omnivora dan kanibal, memakan kepiting lainnya, kerang dan bangkai ikan. Kepiting ini dapat tumbuh sampai ukuran 25 cm atau dengan berat mencapai 2 kg, dimana kepiting betina ukurannya lebih besar dari yang jantan (DPI & F, 2003).

Selain kepiting atau rajungan, masih banyak jenis lainnya dari seksi Brachyura yang mempunyai ciri-ciri bentuk, sifat-sifat hidup dan lingkungan yang berbeda-beda. Di daerah pasang surut dengan hamparan pasir yang luas di daerah-daerah tertentu dapat ditemukan kepiting Myctyris, nama Inggrisnya adalah soldier crab sedangkan disini sering diberi julukan tentara Jepang. Di pantai dekat Merauke, jika air sedang surut, mereka bisa terlihat bergerak kian kemari di atas pasir, serentak dalam gerombolan besar yang terdiri dari ratusan atau ribuan individu, dengan penuh kewaspadaan. Dengan sedikit saja gangguan, misalnya dengan langkah seseorang yang mendekat, maka tiba-tiba saja mereka akan lenyap seketika secara serempak, memasuki lubang perlindungan. Baru setelah situasi dianggap aman, mereka akan ke luar lagi beramai-ramai hilir mudik di atas pasir (Nontji, 2002).  
V.          KEPITING SEBAGAI KEYSTONE SPECIES

Spesies kunci (keystone species) adalah suatu spesies yang menentukan kelulushidupan sejumlah spesies lain. Dengan kata lain spesies kunci adalah spesies yang keberadaannya menyumbangkan suatu keragaman hidup dan kepunahannya secara konsekuen menimbulkan kepunahan bentuk kehidupan lain (Power & Mills, 1995 dalam Prianto, 2007).

Secara tindak langsung melalui pola tingkah laku dan kebiasaannya, kepiting telah memberikan manfaat yang besar terhadap keberlangsungan proses biologi di dalam ekosistem pesisir, seperti hutan mangrove. Menurut Prianto (2007), beberapa peran kepiting di dalam ekosistem pesisir, adalah sebagai berikut:
1.            konversi nutrien dan mempertinggi mineralisasi; Kepiting berfungsi menghancurkan dan mencabik-cabik daun/serasah menjadi lebih kecil (ukuran detritus) sehingga mikrofauna dapat dengan mudah menguraikannya. Hal ini menjadikan adanya interaksi lintas permukaan, yaitu antara daun yang gugur akan berfungsi sebagai serasah (produsen), kepiting sebagai konsumen dan detrivor, mikroba sebagai pengurai;
2.            meningkatkan distribusi oksigen dalam tanah; Lubang yang dibangun berbagai jenis kepiting mempunyai beberapa fungsi diantaranya sebagai tempat perlindungan dari predator, tempat berkembang biak dan bantuan dalam mencari makan. Disamping itu, lubang-lubang tersebut berfungsi untuk komunikasi antar vegetasi misalnya mangrove, yaitu dengan melewatkan oksigen yang masuk ke substrat yang lebih dalam sehingga dapat memperbaiki kondisi anoksik;
3.            membantu daur hidup karbon; Dalam daur hidup karbon, unsur karbon bergerak masuk dan keluar melewati organisme. Kepiting dalam hal ini sangat penting dalam konversi nutrien dan mineralisasi yang merupakan jalur biogeokimia karbon, selain dalam proses respirasinya;
4.            penyedia makanan alami; Dalam siklus hidupnya kepiting menghasilkan ratusan bahkan pada beberapa spesies dapat menghasilkan ribuan larva dalam satu kali pemijahan. Larva-larva ini merupakan sumber makanan bagi biota-biota perairan, seperti ikan. Larva kepiting bersifat neuston yang berarti melayang-layang dalam tubuh perairan, sehingga merupakan makanan bagi ikan-ikan karnivora.





VI.       METODE SAMPLING KEPITING

Wilayah pesisir merupakan wilayah yang unik karena ditemukan berbagai ekosistem mulai dari daerah pasang surut, estuaria, hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun dan rumput laut. Kepiting merupakan biota khas yang hidup di wilayah pesisir terutama di hutan mangrove dan pantai berpasir.
Larva kepiting yang hidup di wilayah perairan tergolong dalam kelompok plankton. Plankton umumnya berukuran kecil, jumlahnya di perairan relatif sangat tidak padat. Oleh karena itu, pengambilan sampel plankton harus dilakukan dengan alat yang dapat menyaring air sedemikian rupa sehingga plankton yang tersaring cukup jumlahnya untuk dianalisis. Untuk keperluan ini alat khusus yang biasa digunakan adalah jaring plankton (plankton net). Setiap mata jaring yang digunakan ukurannya (mesh size) harus berbeda, tergantung dari plankton yang akan dikumpulkan, apakah itu fitoplankton atau zooplankton. Jika yang diinginkan fitoplankton, maka ukuran mata jaring harus kecil, demikian sebaliknya untuk zooplankton (Fachrul, 2007).
Menurut Sara, dkk. (2006) bahwa, sampling larva kepiting (Scylla spp.) di perairan dilakukan dengan menggunakan alat miller net high speed yang dimodifikasi. Spesifikasi alat tersebut yaitu, mata jaring berukuran 300 ยตm, diameter mulut jaring 20 cm, panjang jaring 100 cm dan panjang lengan (pegangan) 100 cm. Alat sampling ini digunakan dengan cara diayunkan dari atas ke bawah permukaan air terus-menerus selama 10-20 menit dengan kecepatan yang sama. Sampel larva kepiting yang diperoleh difiksasi dengan larutan formalin 4%.
Sedangkan menurut Fachrul (2007), untuk sampling zooplankton yang berukuran besar, seperti larva kepiting, dapat digunakan jaring dengan diameter mulut jaring 0,45 m, panjang 2,10 m dan ukuran mata jaring 0,50 mm. Selain itu juga sampling plankton dapat dilakukan dengan menyaring air sebanyak 100 liter dari lokasi sampling, dengan menggunakan water sampler 10 liter atau penyaringan dapat pula dilakukan dengan menggunakan ember ukuran 5 liter sebanyak 20 kali penyaringan.
Air yang terkumpul kemudian disaring dengan plankton net dimana jaring plankton tersebut telah dilengkapi dengan tabung pengumpul plankton yang mempunyai ukuran 25 ml. Selanjutnya sampel plankton yang terjebak ditampung dalam tabung pengumpul plankton dan diawetkan dengan lugol atau formalin 4% yang telah dinetralkan dengan boraks atau alkohol 70% dan diberi label. Pencacahan zooplankton dilakukan dilaboratorium dengan menggunakan kaca pembesar atau mikroskop dan dihitung berdasarkan jumlah individu yang terlihat.
Sampling juvenil dan kepiting dewasa biasanya dilakukan dengan menggunakan perangkap dengan model yang beraneka ragam. Menurut DPI & F (2005), perangkap kepiting yang digunakan dalam pengambilan sampel berupa pot yang disebar di beberapa lokasi sampling. Tiap-tiap pot diberi nomor yang berbeda-beda sesuai titik sampel untuk memudahkan dalam identifikasi lokasi. Selain itu juga sampling kepiting dewasa dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap yang terbuat dari kawat atau jaring dimana biasanya di dalam perangkap tersebut diberikan umpan dengan jenis dan jumlah yang sama. Berbagai model perangkap kepiting dapat dilihat pada Gambar 11.     


Gambar 11. Berbagai bentuk perangkap kepiting (Sumber: http://www.fao.org, 2008)

DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2007. Pengamatan Aspek Biologi Rajungan dalam Menunjang Teknik Perbenihannya, (Online), (http://www.utkampus.net, diakses 1 Mei 2008)

---------. 2008. Kepiting, (Online), (http://mangrove.unila.ac.id, diakses 21 April 2008).

Davey, K. 2000. Decapod Crabs Reproduction and Development, (Online), (http://www.mesa.edu.au, diakses 1 Mei 2008).

DPI & F. 2003. Fish Guide. Saltwater, Freshwater and Noxious Species, (Online), The Great Outdoors Publications, Brisbane, (www2.dpi.qld.gov.au, diakses 13 Mei 2008).

DPI & F. 2005. Fisheries Long Term Monitoring Program Sampling Protocol Mud Crab: (2000 – 2005), (Online), Department of Primary Industries and Fisheries, (http://www2.dpi.qld.gov.au, diakses 14 Mei 2008).

Fachrul, M.F. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara. Jakarta.

Hsieh, H.L. 2004. Towards Wetland Restoration for the "Wetland Three Musketeers”, A Horseshoe Crab, A Fiddler Crab, and A Coconut Crab, (Online), Research Center for Biodiversity, Academia Sinica, Taipei, (biodiv.sinica.edu.tw, diakses 14 Mei 2008).

Irmawati. 2005. Keanekaragaman Jenis Kepiting Bakau Scylla sp Di Kawasan Mangrove Sungai Keera Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, Lembaga Penelitian UNHAS, (Online), (http://www.unhas.ac.id, diakses 30 April 2008).

Juwana,  S. 2004. Penelitian Budi Daya Rajungan dan Kepiting: Pengalaman Laboratorium dan lapangan, Prosiding Simposium Interaksi Daratan dan Lautan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

MacKinnon, K., Hatta, G., Halim, H. & Mangalik, A. 2000. Ekologi Kalimantan. Prenhallindo. Jakarta.

Nontji, A. 2002. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Prianto, E. 2007. Peran Kepiting Sebagai Spesies Kunci (Keystone Spesies) pada Ekosistem Mangrove. Prosiding Forum Perairan Umum Indonesia IV. Balai Riset Perikanan Perairan Umum. Banyuasin.

Quinitio, E.T. & Parado, E.F.D. 2003. Biology and Hatchery of the Mud Crabs Scylla spp. Aquaculture Extension Manual, (Online), No. 34, SEAFDEC Aquaculture Department, Iloilo, Philippines (rfdp.seafdec.org.ph, diakses 15 Mei 2008).

Rahmawaty. 2006. Upaya Pelestarian Mangrove Berdasarkan Pendekatan Masyarakat (Online), Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan, (http://library usu.ac.id, diakses 2 April 2008).

Sara, L. dkk. 2006. Abundance and Distribution Patterns of Scylla spp. Larvae in the Lawele Bay, Southeast Sulawesi, Indonesia, Asian Fisheries Science, (Online), Vol. 19; 331-347, (www.asianfisheriessociety.org, diakses 1 Mei 2008).

Shimek, R.L. 2008. Crabs, (Online), (www.reefkeeping.com, diakses 15 Mei  2008).

Umar, N.A. 2002. Hubungan antara Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton (Kopepoda) dengan Larva Kepiting di Perairan Teluk Siddo Kabupaten Barru Sulawesi Selatan, (Online), IPB.

www.environment.gov.au. 2007. Red Crabs Gecarcoidea natalis  (Pocock, 1888), (Online), (diakses 15 Mei 2008).

www.fao.org. 2008. Trap Crab, (Online), (diakses 15 Mei 2006).

www.nio.org.gif. 2008. Crab Life Cycle, (Online), (diakses 15 Mei 2006).

www.portofpeninsula.org. 1997. Crab. Washington State Department of Fish & Wildlife, (Online), (diakses 15 Mei 2008).

www.shim.bc.ca. 2008. Red Rock Crab, (Online), (diakses 15 Mei 2008).